Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Friday, January 14, 2011

Filosofi meja dan kebahagiaan

Kehidupan bergulir ibarat kita melihat roda yang berputar. Banyak sebab dan akibat menjadi awal segala manusia menentukan pilihan hidupnya, mungkin itu hukum dari kausalitas yang bermuara pada sandaran akhir perjalanan.
Pernah saya merenung apa yang menjadikan manusia bisa merasakan hidup dengan senang dan bahagia. Apakah mereka juga mengerti sebenarnya apa dari tujuan hidup selama mereka menjalani dengan senang hati, atau mungkin karena terpaksa dengan kondisi akhirnya mereka memilih satu kata”bahagia dan bahagia”.
Perjalanan yang ditempuh tidaklah kemudian menghakimi bahwa kesenangan menjadi pilihan banyak orang, tapi kalau saya telusuri ada penopang yang mengakibatkan sandaran kebahagiaan menjadi dominan. Dalam pikiran saya terbersit saat merenungi perjalanan hidup ini, saya melihat meja kenapa meja kakinya empat atau bahkan lebih? Dan apakah itu yang menjadikan meja bias berdiri?
Kalau saya telusuri, meja dihadapan saya bila dikasih dua kaki mungkin tidak sekokoh yang ada tapi itu menarik untuk saya teliti dan kaji. Kemudian itu menjadi inspirasi dalam menghadapi hidup kemudian hari, bahwa hidup ini agar bias kokoh diperlukan penopang untuk tetap berdiri dan konsisten dalam menghadapi ujian.
Sejatinya kalau kita belajar dari meja berkaki empat, kebahagiaan kita sangat tergantung dari uraian empat susunan kerangka yang menjadikan kita tetap survive. Saya mengibaratkan empat kaki itu adalah dari empat dimensi, diantaranya sisi material, intelektual, emosional dan spiritual. Mungkin pembaca bisa menambahinya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Bagi saya empat itu sudah mewakili dari realitas yang kompleks atas kehidupan nyata.
Sadar atau tidak bahwa itu mengibaratkan makhluk ciptaan tuhan melebihi apa yang saya ibaratkan “meja” tadi, bisa kuda, singa, gajah atau yang lain. Pastinya hidup bagian dari pembelajaran dalam memaknai dan menciptakan kebahagiaan dalam setiap keadaan.
Semoga kita semua mau dan mampu menguraikan pesan yang ada dalam setiap kejadian menjadi khasanah hikmah menuju kebahagiaan sejati. Semoga member manfaat bagi semuanya.
Manggarai, 09/08/2010

Sebait indahnya menunggu dan meraih kebahagiaan berbuka puasa

Matahari indah kini menuruni langit mengabarkan raut sayu dihiasi senja sore, Langitmerah berangsur semakin gelap. Angin mempesonakan lelembutannya, memberi hawakesejukan bagi manusia setelah seharian didera teriknya matahari. Sang Surya dengan anggunnya, ia menenggelamkan dirinya diufuk barat. Sungguh menakjubkan fenomena alam ini. Keindahan sirat suci yangseharusnya membuat kita semakin menyadari betapa kecilnya kita biladibandingkan dengan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta'ala. Subhanallah wa bihamdih...

Tetapi, senja dipertama Ramadhan selalu mempunyaiarti khusus dan istimewa. Bukan hanya karena kepesonanya nan indah, tetapikarena di waktu senja, di kala matahari telah tenggelam, maka tibalah waktunyabagi hamba-hamba Allah untuk berbuka puasa....
Wahai hamba allah yang merindukan suara azan magribyang pertanda akan gembiranya akan datang waktunya berbuka, bahkan "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda, "Orang yang berbuka puasa mempunyai duakebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaanketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya." (HR.Bukhari dan Muslim)

Bersegeralah berbuka puasa! Tahukah engkau kapanwaktu berbuka puasa?Yaitu ketika sudah dipastikan matahari telah tenggelam, baik denganmenyaksikannya secara langsung atau berdasarkan informasi dari orang yangterpercaya melalui pengumandangan adzan Maghrib atau hal lainnya Dan ketikawaktu berbuka telah tiba, maka bersegeralah berbuka puasa. Sebagaimana haditsdari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhubahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda, "Orang-orang (umat Islam) senatiasa beradadalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (Muttafaqun'alaih). Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "SesungguhnyaRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat Maghribhingga berbuka puasa kendati hanya dengan seteguk air." (HR.Tirmidzi. Hadits Hasan)
maka segerakan untuk berbuka karena banyak berkah yang tiada tara, semoga allah memberikan banyak kesejukan sejati yang mengobati dahaga seharian. selamat menikmati berbuka puasa untuk kawanku yang menjalankan puasa seharian......
11 Agustus 2010 jam 18:42

Thursday, January 13, 2011

Menemukan Ketenangan

Coba anda lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang. Berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang-gelombang yang mengalun ke penjuru telaga.
Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang- gelombang itu? Mungkin anda mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air atau dengan alat lain atau. menghadangnya dengan ke dua belah kaki anda. Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan. Satu-satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.
Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran anda. Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda. semakin sulit anda mencapai ketenangan itu. Amati saja. Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur-angsur tenang. Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran; sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas. Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.
begitulah relaksasi, menjadi penting untuk menciptakan ketenangan, buka kita menekan diri bahkan sampai mengekang, semua tidak akan menyelesaikan. dengan ketenangan berfikir dengan diatur melalui pernafasan maka kita telah mengatur diri dan jiwa menemukan realitas ketenangan.....
selamat mencoba untuk meditasi atau car lain dengan berdzikir untuk mencapai titik ketenangan spiritual......
salam perubahan untuk diri yang kreatif dan penuh manfaat..
19 Agustus 2010 jam 14:38

Seikat Pendaran suci dari nikmat Allah

Menyusuri fajardengan keyakinan, ungkapan ini sedikit saya jadikan kata yang jadi pembukadalam perjalanan pagi ini. Entah itu kuasa atau memang jadi permulaan dalammenatap aktifitas hari ini. Habis tadarus sambil menunggu adzan subuh menikmatisholawatan terjalin bait untaian ayat dibaca untuk mengisi waktu fajar ini,inilah rutinitas yang mengisi hari dibulan ramadhan. Selesai membaca danmengkaji dalam setiap ayat saya mendapatkan makna yang inspiratif dan luarbiasa dari bacaan ayat-ayat suci al Qur'an pagi ini.
Bukti-bukti kekuasaanTuhan: Dialah Allah yang menjadikansegala yang ada dibumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit,lalu dijadikan-Nya tujuh langit! Dan DIa Maha Mengetahui segala sesuatu. Setiapmereka diberi rizki buah-buahan yangserupa dan untuk mereka didalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekaldidalamnya (kenikmatan syurga itu adalah kenikmatan yang serba lengkap, baikjasmani, maupun rohani).
Begitu balasan bagiorang yang beriman disampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman danberbuat baik. Allah menyediakan banyak keberkahan dan kenikmatan yang tiadaterkira, termasuk anda yang membaca tulisan ini. Karena saya sendiri bisa menulisini mungkin tidak biasanya dan saya bisa menuruti tangan dan ide kreatif iniuntuk menggerakkan jari jemari dengan rapi. Lebih dari apa yang kita nikmatidan Allah berikan pada semua makhluknya yang dijelmakan melalui segalakenikmatan hingga kita semua harusnya mengucapkan banyak terimakasih karenasemuanya gratis.
Bensin satu litersaja dihargai Rp. 4500,- sedangkan kita bisa menikmati air dan sirkulasi dalamtubuh ini tanpa syarat apapun dan Allah memberikannya Cuma-Cuma. Gas LPG tabung tiga kilogram dihargai13-15ribu sedangkan kita setiap hari, jam, detik bahkan sekon tanpa apapunAllah memerikannya pada kita semua, apa yang kurang dari apa yang telahdiberikan kita tidak menyadarinya. Bila kita ukur dengan nilai fisik ataumateri mungkin kita hutang banyak pada sang pemberi hidup ini Allah SWT, tapi Allahtidak pernah meminta baik yang tua-muda, besar-kecil, kaya-miskin semuanyatidak dibedakan dan mereka yang hidup diberikan banyak dan tinggal kita apakahsadar mengakuinya atau malah lupa tanpa peduli.
Rentetan uraian diatassaya hanya menganalogikan betapa banyak dan tak terhitung kita diberikan banyakdan bila dalam perumpamaan; tatkala manusia diciptakan dan nyamuk diciptakan,banyak alasan mungkin diciptakan pula kita sebagai manusia bila menjawab; adayang merasa nyamuk itu merugikan dan ada yang bilang menguntungkan. Merugikan karenakita merasakan darah kita dihisap dan bahkan datang penyakit demam berdarahmungkin, tapi bagi mereka yang bisa menangkap peluang dijadikan berkah ataukeuntungan besar mereka menciptakan obat nyamuk dan sejenisnya untukmenghindarkan manusia dari gigitan nyamuk dan mungkin dalam keadaan tertentujadi sebab penyakit demam berdarah yang bisa mengakibatkan matinya manusia.
Semua sudah ada skenarionya,Allah maha tahu dari apa yang dipikirkan makhluknya. Kita hanya mengerti sedikitdapi apa yang kita prediksi dan itulah yang perlu kita renungkan. Sayapunmerasakan hal sama pada pagi ini, entah apa tatkala kumandang azan subuhbersahut-sahutan dari masjid dan mushola yang ada disekitar rumah yang ditempati,saya mengajak teman untuk jamaah dan ketika itu saya menunggunya ternyata sudahdatang iqomah, saya pun segera menuju masjid terdekat dengan jalan kaki. Sholatsubuh pun sudah dimulai rekaat pertama, tiba-tiba saya mendengar bacaan ayat suratdalam al Qur'an dilantunkan setelah saya lihat ternyata didepan halaman rumahdidirakan jama'ah shalat subuh, saya pun bergegas menuju barisan jamaah shalattersebut. Tak terpikir lagi menuju masjid karena niatan saya adalah berjamaah. Selesaisholat saya baru sadar dan memikirkan kenapa bisa saya memilih jama'ahdihalaman rumah tersebut? Kembali keawal, bahwa keyakinan akan harapan sayauntuk berjamaah ternyata terjawab dan adanya kekuasaan Allah bahwa dalam pesanyang didapatkan adalah uraian makna yang saya dapatkan keterkaitan dalam ayatal Qur'an tadi. Bahkan dalam makna lain yang saya dapatkan diantaranya adalah "Dirikanlahshalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk. Dalam maknayang lebih luas shalat sendiri merupakan fase spirit-ritual yang terkandung didalamnya yaitu shalat sebagai penolong danmenjadi tolok ukur dalam subtansi kesabaran. Memang berat untuk mencapainyakarena yang bisa mencapainya adalah orang-orang yang khusuk.
Ya, mungkin banyakyang lain dan tersirat dalam fakta yang berbeda, karena kita sebagai ummat NabiMuhammad pasti mengharapkan syafaatnya dan itu merupakan usaha perantaraandalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatumudharat bagi oran lain. Jelas rincian nikmat tidak dapat kita uraikan hinggakeujung yang lebih rumit, tapi dipastikan bahwa kita semua adalah ciptaan Allahyang harusnya mensyukuri dalam segalanya dan mengerti atas ciptaannya.
Sebagai akhirtulisan ini saya hanya merenungkan betapa dahsyatnya kekuasaan Allah. Kita kadangmengeluhkan apa yang ditimpakan pada kita sewaktu-waktu, padahal kalau dirunutdan dipikirkan ternyata Allah mempunyai maksud yang lebih untuk mengangkatderajat manusia bukan karena materi, tapi karena tingkat kesabaran danketakwaannya. Yaitu ketika menghadapi ujian cobaan yang dihadirkan dan kalaukita meyakini ternyata banyak yang tersirat tanpa syarat.
Begitu panjang bilasaya uraikan, semoga apa yang tertulis ini mampu menjadi inspirasi bagi sayapribadi dan menjadi manfaat bagi pembaca sekalian yang mengerti, karena masihbanyak kekurangan dari apa yang saya uraikan. Tapi bukan berarti tidak adamaknanya. Demikian dari apa yang menjadi inspirasi pagi bahwa keyakinan menjadiawal dari eksekusi sikap kita dan yang pasti kita harus bergegas untuk memulaidari apa yang sudah kita niatkan dengan keyakinan dan tinggal kita menjalankandiri dalam ranah kemanfaatan. Maha suci Allah dengan segala firmannya.
Saharjo, menjelang pagi.05.30/ 17/08/2010

Tasawuf sebagai Mazhab Cinta

Menurut kisah, Hasan Al-Bashri sahabat karib Rabi’ah (meskipun dikisahkan meninggal lebih dari tujuh puluh tahun sebelum kematian Rabi’ah ), mendesak Rabi’ah agar segera menikah, dan begitu juga yang lainnya. Mereka mendesak agar memilih sesama sahabat sufi di kota itu. Atas desakan kuat itu Rabi’ah mengatakan, “Baiklah, aku akan menikah dengan seseorang yang paling pintar diantara kalian semua”. Mereka mengajukan sekaligus mengatakan dengan sedikit mendesak, “Hasan Al-Bashri itulah orangnya.” Dengan diantar para sufi kemudian berangkatlah Hasan Al-Bashri menemui Rabi’ah untuk melamarnya. Lantas Rabi’ah berkata kepadanya, “Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku bersedia menjadi istrimu.” Hasan Al-Bashri berkata, “Bertanyalah dan jika Allah mengijinkan, aku akan menjawab pertanyaanmu.” Pertanyaan pertama, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.” Lalu ia mengajukan pertanyaan kedua, “Pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan juga menjawab, “Hanya Allah Yang Tahu.” Lalu Rabi’ah memberikan pertanyaan selanjutnya, “Pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan nanti semua akan menerima buku di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerimanya di tangan kanan atau tangan kiriku?”
Maka Hasan hanya dapat menjawab, “Hanyalah Allah Yang Maha Mengetahui.” Akhirnya Rabi’ah mengajukan pertanyaan terakhir, “Pada saat hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk Surga (Jannah) dan sebagian kelompok lain akan masuk ke Neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan juga menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu. Selanjutnya Rabi’ah mengatakan kepada Hasan ,”Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaimana aku harus bersuami yang kepadanya dan aku harus menghabiskan waktuku dengannya? Sedangkan dengan empat pertanyaanku saja dia tidak bisa menjawab.” Mendengar jawaban itu maka pergilah Hasan meninggalkan Rabi’ah menempuh jalan hidup (spiritual) sendiri-sendiri. Sebagaimana kebanyakan cerita di dunia tasawuf, kita tak tahu bagaimana Hasan bisa bertemu dengan Rabi’ah. Yang jelas riwayat dialog di atas sebenarnya mencerminkan dua konsep tasawuf pada masa awal perkembangannya yang dilakoni oleh tokohnya masing-masing. Rabi’ah al-Adawiyah misalnya adalah seorang wanita sufi yang pertama kali menitikberatkan unsur cinta “Hub” di dalam tasawuf bahkan menggarisbawahinya. Rabi’ah pernah berkata: “Uhibbuka hubbain”, aku mencintai Engkau karena dua kecintaan. Satu kecintaan karena nafsu, dan kedua karena Engkau layak menerima cintaku.” Sebagaimana mazhab fiqih, kalam & filsafat, juga ada banyak ajaran dan doktrin tasawuf yang berkembang, tapi makhluk semacam apakah tasawuf itu? Tak ada kata yang paling sering disalahpahami selain tasawuf. Baik oleh pembenci maupun pengamalnya. Tasawuf dibenci disamping karena tidak dipahami juga dianggap sebagai anti sains, anti kemajuan. Sebagian orang malah berujar jika tasawuf datang, kemajuan akan hengkang. Memang, ada banyak definisi tentang tasawuf. Suhrawardi mengatakan, “Qawl (pendapat) para guru tasawuf tentang apa itu tasawuf lebih dari seribu banyaknya.” Walaupun begitu banyak Suhrawardi menyebut beberapa definisi Tasawuf dari tokok-tokoh kenamaan dalam dunia tasawuf. Abu Sa’id al-Kharraz (268 H) berkata, “Sufi adalah orang yang telah Allah bersihkan hatinya. Kemudian hatinya dipenuhi cahaya. Ia masuk dalam hakikat kenikmatan dengan berzikir kepada Allah.” Berkata Abdul Qadir Kilani: “Orang membersihkan lahir batinnya dengan mengikuti kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya saw. Secara tidak langsung Basyar al-Hafi mengartikan tasawuf sebagai mengikuti sunnah Rasul, berkhidmat kepada orang-orang saleh, memberi nasihat kepada saudara seagama, mencintai sahabat dan ahlil bait Nabi. Tanpa penjelasan, definisi-definisi ini tidak bermanfaat apa-apa. Pada umumnya orang keliru memahami pengertian tasawuf dengan zuhud dan ibadah; sufi dengan zahid dan ‘abid. Sekarang ini tasawuf adalah nama tanpa realitas. Dahulu tasawuf adalah realitas tanpa nama, begitu kata Abul Hasan Fusyanji. Tulisan itu dikomentari oleh Hujwiri, “Pada jaman para sahabat Rasulullah dan para khalifahnya, nama tasawuf tidak ada, tetapi realitasnya ada pada din setiap orang.
Saat ini nama itu ada tanpa realitas.” Itu diucapkannya pada abad ke-11, empat ratus tahun setelah Rasulullah s.a.w. meninggal dunia. Kini mungkin sebagian orang masih menganggapnya relevan, dan sebagian lagi mungkin menolaknya. Para penganut tasawuf misalnya masih beranggapan bahwa tasawuf masih tetap hidup, bergantung bagaimana kita mendefinisikan tasawuf.
......mahzab cinta.....
”Barangsiapa yang tidak sanggup menutupi dosa-dosanya, maka perbanyaklah bershalawat kepada Rasulullah dan keluarganya, sesungguhnya shalawat itu benar-benar dapat menghancurkan dosa-dosa....”

Saharjo, Tebet
18 Oktober 2010 jam 22:14

Perjalananku Dalam Aksi; Untuk Sebuah Pengabdian

Unjuk rasa yang berlangsung kemarin bertepatan pada tanggal 20 oktober menjadi momen penting dalam dinamika politik-sosial ke-Indonesiaan. unjuk rasa memperingati satu tahun pemerintahan SBY -boediyono yang berlangsung didepan istana ke-presidenan pun bahkan menggema diberbagai pelosok penjuru daerah. ini menjadi bukti bahwa mahasiswa, buruh dan LSM menyuarakan aspirasi rakyat.
Aksi yang terjadi memperlihatkan mata saya bahwa realitas yang terjadi memberi bukti diantara massa ada yang terkoordinir solid dan ada yang memang mereka membuat suasana menjadi ricuh. bila saya telisik lebih dalam kacamata idealisme gerakan, menjadi menarik jika dipetakan dalam paradigma dan alasan kenapa mereka aksi. banyak diantara masyarakat bertanya terhadap aksi yang terjadi dimana-mana, apakah massa aksi tersebut adalah titipan yang dibayar oleh elit? pertanyaan itu menjadi keprihatinan dari saya, apalagi dalam kondisi genting saat ini kita bisa melihat mana yang seharusnya aksi-aksi disuarakan oleh mahasiswa yang memilih idealis dan independen atau malah cenderung pragmatis.
Aksi unjuk rasa tentunya mempunyai alasan tersendiri dan pastinya akan mengusung pesan kekacewaan atas kebijakan yang berdampak pada masyarakat secara mayoritas. apalagi aksi kekacewaan terhadap pemerintahan SBY-budiono, jelas jelas menjadi bukti bahwaprsiden beserta kroni-kroninya tidak dapat mengemban amanah rakyat, apalagi janji-janjinya saat kampanye PILPRES acapkali hanya menjadi lipstik kampanye politik dan berujung pada pembualan-pembualan.
Sadar atau tidak mahasiswa telah menggelorakan semangat revolusi walaupun masih ada yang setengah hati. aksi kemarin menjadi sederetan PR panjang kita semua, saat saya ditengah kepungan massa aksi melihat betapa bengalnya pemerintahan dinegara ini, mereka yang dipercaya tidak mampu mengambannya sedangkan aksi dengan ribuan massa ternyata disambut oleh aparat yang bersiaga dengan jumlah yang lebih banyak, apakah ini yang dinamakan "PENGAMANAN", mengerti atau tidak bahwa ini menakut-nakuti masyarakat yang tidak mempunyai nyali dan menjadi teror tembak ditempat bagi aksi yang dinyatakan ricuh.
klaim-klaim diatas merupakan bentuk demoralisasi aparat dan melawan asas demokrasi yang harusnya bersinergi tanpa ada represifitas aparat terhadap rakyat. jangan sampai kejadian yang mengakibatkan seorang mahasiswa terkena peluru dijakarta kemarin dan penangkapan massa aksi diliaht sebalah mata, kita perlu mengoreksi. memang ada beberapa massa aksi tidak sehat " berkepantingan untuk sekedar diekspose media" untuk pencitraan organisasi dan inilah yang kemudian memecah soliditas aksi aliansi dan front besar yang harusnya bisa bersatu. ada yang berkepentingan dengan titipan dan ada yang berkepentingan dengan bertabrakannya masalah dilapangan disulut oleh oknum-oknum yang menginginkan kericuhan. yang paling menyedihkan terindikasi beberapa massa aksi sudah dulu meminum-minuman keras (alkohol) inilah yang membuat saya sedih,kenapa disaat idealisme menggema ada orang yang tidak senang kemudian menyusup massa aksi tandingan dengan cara yang sangat tidak intelek.
Tapi itulah realitas, dalam kurun massa yang begitu besar ada saja ulah yang dilakukan oleh massa aksi untuk berebut media dengan menampilkan aksi yang mungkin lebih seksi dengan anarkis. tuntutan rakyat jelas mereka semua ingin membangunkan keadilan yang kini tersita dan terbelenggu oleh para penguasa. probelem kemiskinan kian hari bukan malah berkurang tapi malah kian bertambah, rakyat belum sejahtera, apalagi msalah kedaulatan negara dan dpenghormatan terhdap hak asasi manusia. kooptasi jelas nyata terhadap semua kebijakan yang diputuskan dan tangan asing bermain cantik dengan menghasilkan undang-undang ayang sengaja sudah dipesan melalui elit penguasa.
teriakan masayarakat dalam massa aksi yang dimotori oleh mahasiswa menjadi bukti bahwa sebagisn besar msyarakat menginginkan perubahan akan nasib bangsa. Berbagai kebijakan neoliberal yang merupakan kelanjutan dari pemerintahan SBY yang pertama ini seharusnya dapat diakhiri bila pemerintah sungguh-sungguh menegakkan kemandirian ekonomi dan kedaulatan nasional. Namun kini jelaslah bahwa kepentingan bangsa bukanlah agenda prioritas pemerintahan SBY-Budiono. Sejak dilantik setahun yang lalu, pemerintahan SBY-Budiono hanya meneruskan dan bahkan menegaskan sifat kebijakan yang merugikan bangsa seperti di bawah ini:
1. Pro Penjajahan Asing.
Sejak sebelum terpilih pun SBY-Budiono adalah pasangan yang difavoritkan oleh kekuatan finansial di pasar modal dan perusahaan-perusahaan raksasa asing seperti Chevron, Halliburton, Freeport, ExxonMobil yang telah mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan serakah dan menyebabkan kemiskinan dan penderitaan penduduk setempat. Sebagai contoh, perusahaan transnasional raksasa asal AS, Freeport, mengeruk tambang emas terbesar di dunia yang terletak di Papua, sementara nilai royalty yang dibayarkannya ke pemerintah adalah yang terendah di dunia. Bentuk-bentuk penjajahan seperti ini berlangsung di seluruh penjuru negeri tanpa ada inisiatif sungguh-sungguh oleh pemerintah SBY-Budiono untuk menghentikannya atau menegosiasikan kesepakatan yang lebih menguntungkan.

Begitu pun institusi keuangan internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) berdiri di belakang SBY-Budiono karena pemerintahan ini gemar menggunakan utang yang mereka tawarkan, yang sesungguhnya menjerat bangsa ini dalam ketergantungan. Cara pembayaran utang yang dilakukan oleh SBY-Budiono - yakni dengan bergantung pada pengetatan anggaran, pemotongan subsidi, dan ekspor bahan baku - dilakukan menurut dikte negeri-negeri penjajah/imperialis (negeri G-7) yang diinstruksikan kepada negeri-negeri berkembang dalam pertemuan-pertemuan G-20. Sebagai bentuk kepatuhannya, SBY-Budiono memangkas subsidi sebesar Rp 26,5 trilyun dalam RAPBN 2011.
Pemerintah SBY-Budiono menunjukan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB/GDP) sebagai bukti keberhasilan kebijakan ekonominya. Yang tidak disinggung oleh mereka adalah sebagian besar angka PDB tersebut merupakan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Sementara yang dirasakan oleh mayoritas rakyat adalah biaya hidup yang melonjak, kemiskinan yang meluas, dan lapangan kerja yang menyusut.
Tidaklah mengherankan bila SBY-Budiono mendapat berbagai pujian dan penghargaan dari pihak asing. Majalah “Time” menempatkan SBY sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia, “The Economist” menyebut SBY sebagai “kampiun bagi investor asing”, dan pidato SBY di Universitas Harvard diklaim sebagai terbaik dalam abad ke-21 oleh seorang penulis AS . Sebaliknya, di mata rakyat Indonesia, SBY semakin tampak sebagai seorang Gubernur Jendral yang bekerja untuk kaum penjajah dan oleh karenanya tidak pernah berpihak pada kepentingan bangsa.
2. Menyingkirkan Rakyat dari Demokrasi.
Bertentangan dengan klaim keberhasilan SBY-Budiono tentang demokrasi yang berkualitas; di bawah pemerintahan mereka kualitas demokrasi justru merosot tajam. Dalam menjamin hak dasar demokrasi saja, yakni hak berserikat dan berkumpul, SBY-Budiono telah gagal melaksanakan kewajibannya. Penyerangan kelompok Islam fundamentalis terhadap acara-acara politik kerakyatan, hingga terhadap jemaat HKBP di Bekasi, menunjukan bahwa pemerintah SBY-Budiono berulangkali tidak mampu melindungi warga negara dan menjamin pelaksanaan hak berserikat dan berkumpul sebagaimana termaktub dalam UUD 45 pasal 28.
Praktek demokrasi elektoral sendiri semakin penyakitan dengan maraknya politik uang yang menyebabkan politik berbiaya tinggi (high-cost politics). Dengan praktek politik seperti ini, peran rakyat dalam menentukan pilihan dan mencalonkan diri untuk dipilih menjadi tersingkir dan digantikan dengan kepentingan pihak-pihak yang memiliki modal raksasa. Tak lain dari SBY-Budiono dan partai pendukungnya, Partai Demokrat, yang paling diuntungkan oleh politik uang semacam ini.
3. Gagal Memberantas Korupsi.
Catatan pemberantasan korupsi menunjukan perkembangan yang minus. Alih-alih korupsi diberantas, SBY-Budiono justru mengambil kebijakan-kebijakan yang menolong koruptor. Bulan-bulan awal SBY-Budiono memerintah ditandai dengan upaya kriminalisasi dan pelemahan Komite Pemberantas Korupsi (KPK). Kasus Bank Century yang begitu penting dan kakap diupayakan untuk digiring ke jalan buntu oleh para wakil-wakil Partai Demokrat di DPR. Ketika mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dipanggil oleh KPK untuk memberikan keterangan terkait kasus tersebut, SBY memindahkannya ke AS. Kekecewaan demi kekecewaan semakin bertambah ketika momen-momen perayaan seperti Lebaran dan Hari Kemerdekaan justru digunakan oleh SBY untuk memberikan remisi dan grasi kepada koruptor-koruptor kakap. Setahun pemerintahan SBY-Budiono telah terang-terang menghapus kebohongan citra ‘bersih’ yang hendak mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri.
4. Gagal Turunkan Harga
Kebijakan liberalisasi perdagangan dijalankan pemerintah tanpa mempedulikan kepentingan industri nasional, sehingga industri-industri domestik terancam bangkrut akibat membanjirnya barang-barang impor. Di bidang pertanian, ketergantungan terhadap produk impor semakin mematikan penghidupan kaum tani dan menjadikan negeri ini sangat rentan terhadap lonjakan harga pangan, yang banyak dipengaruhi oleh spekulasi finansial terhadap komoditas pertanian dasar. Dengan menjalankan kebijakan neoliberal yang bertumpu pada kehendak pasar, SBY-Budiono membengkalaikan upaya membangun kedaulatan pangan dan tidak akan mampu mengontrol kenaikan harga yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Atas alasan-alasan di atas kami menyatakan bahwa pemerintahan SBY-Budiono telah gagal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya untuk memajukan bangsa dan menyejahterakan rakyat. Dengan ini kami menyerukan kepada segenap rakyat untuk melibatkan diri dan menggalang kekuatan untuk menyuarakan kegagalan pemerintahan SBY-Budiono dan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan yang mereka sebabkan.
Karena itu, kami akan melakukan konsultasi dengan rakyat, yaitu dengan menggalang tanda tangan mosi tidak percaya terhadap rejim neoliberal SBY-Budiono. Ini akan dilakukan dengan terjun langsung ke kampung-kampung, pemukiman, pabrik-pabrik, desa-desa, dengan mengetuk satu per satu pintu rumah rakyat dan menawarkan petisi untuk mosi tidak percaya untuk mengetahui bahwa telah banyak rakyat yang memandang SBY-Budiono gagal dan perlu segera diganti.
semoga apa yang disuarakan dari massa aksi mampu membuka mata fisik dan mata hati para pemimpin dan elit dinegeri ini. sadar atau tidak semua untuk kebaikan dan perbaikan bangsa kita.
saya hanya menginginkan sedikit dari aspirasi perwakilan massa masyarakat, bahwa semua hanya ingin satu yaitu perubahan bagi rakyat dan keadilan bersanding dengan kesejahteraan.
mari kita kritis dan peduli mengerti akan tugas kita, bahwa aksi kedang memang perlu sebagai penyampai aspirasi. dan masih banyak yang lain misal dengan menulis dan pastinya kita akan tahu dan sadar dengan sinambungnya tanggungjawab bersama dan kitalah sebagai generasi muda yang harus tampil untuk menginspirasi seluruh elemen masyarakat yang ada. saya sakin suatu saat pastu\i semua yang kita usahakan saat ini akan menuai hasil.
perubahan memang tidak hanya disuarakan tapi perlu ditambah dengan semangat dan aksi nyata.....

salam revolusi untuk perubahan.
sahardjo, malam hari dalam keheningan 20/10/2010

Berbakti pada Orang Tua Langkah Paling Efektif untuk Mencapai Sukses dan Kebahagiaan

Setiap manusia tentu mendambakan kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun sebagian kita kesulitan menemukan langkah-langkah yang efektif untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan tidak jarang manusia yang justru bersikap sebaliknya dan kontradiktif dengan idaman dan dambaannya.
Bukankah kita sering menyaksikan orang yang sering gelisah yang tak jelas penyebabnya, sering mendapatkan goncangan badai dalam hidupnya walaupun secara ekonomi ia sudah lebih dari berkucukupan. Mengapa ia sering gelisah dan ditimpa oleh badai kehidupan? Bisa jadi ada sikap yang tanpa disadari menyakiti orang tua. Atau tak menghiraukan lagi nasib orang tuanya yang telah wafat.
Berbakti pada orang tua tidak cukup di masa hidupnya
Rasulullah saw pernah ditanyai: “Siapakah yang paling besar haknya terhadap seseorang?” Beliau menjawab: “Kedua orang tuanya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang berbakti kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup, tetapi ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada mereka, karena ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka setelah wafat. Dan sungguh ada orang yang durhaka kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup, tapi ia dicatat sebagai anak yang berbakti kepada mereka setelah mereka wafat, karena memperbanyak istighfar (memohonkan ampunan) untuk mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 2: 112)
Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: “Sungguh ada seorang hamba yang berbakti kepada orang tuanya ketika mereka masih hidup, tetapi setelah mereka wafat ia tidak menunaikan hutangnya, tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mencatat ia sebagai anak yang durhaka. Sungguh ada seorang hamba yang durhaka kepada orang tuanya, tetapi setelah mereka wafat ia menunaikan hutangnya dan memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah mencatat ia sebagai anak yang berbakti kepada mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 2: 112)
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang paling besar.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 178)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ada tiga hal yang wajib dilaksanakan: Menunaikan amanat kepada orang yang baik atau yang zalim, memenuhi janji kepada orang yang baik atau yang zalim, dan berbakti kepada kedua orang tua yang baik atau yang zalim.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 179)
Ridha Allah swt Bergantung pada Orang Tua
Dalam hadis qudsi Allah swt berfirman: “Sesungguhnya yang pertama kali dicatat oleh Allah di Lawhil mahfuzh adalah kalimat: ‘Aku adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Aku, barangsiapa yang diridhai oleh kedua orang tuanya, maka Aku meri­dhainya. Barangsiapa yang dimurkai oleh keduanya, maka Aku murka kepadanya.” (Jâmi’us Sa’adât, penghimpun kebahagiaan, 2: 263).
Subtansi makna hadis tersebut tidak sulit kita tangkap bahwa ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Orang yang diridhai oleh Allah swt pasti ia akan bahagia dan sukses dalam hidupnya.
Imam Ja’far Ash-Shaqiq (sa) berkata: “Takutlah kamu kepada Allah, dan janganlah durhaka kepada kedua orang tuamu, karena ridha mereka adalah ridha Allah dan murka mereka adalah murka Allah.” (Al-Kafi 2: 349)
Berbakti pada Orang Tua dan Sakinah
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang percaya kepadaku tentang berbakti kepada kedua orang tua dan menjalin silaturrahim, maka aku akan menjaminnya dalam hal penambahan harta, penambahan umur, dan sakinah dalam rumah tangganya.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 176)
Dalam hadis tersebut Rasulullah saw menjamin bahwa orang yang berbakti kepada orang tuanya, ia akan mudah rejekinya, bahagia dan sakinah rumah tangganya.
Berbakti pada Orang Tua dan Kemudahan Rejeki
Imam Ja’far (sa) berkata: “Jika kamu ingin ditambah umurmu oleh Allah, maka bahagiakan kedua orang tuamu. Berbakti kepada mereka dapat menambah rizki.” (Al-Wasâil 18: 371).

CATATAN
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah saw bahwa berbakti kepada orang tua tidak cukup di masa hidup mereka, bahkan sesudah mereka wafat kita dituntut untuk berbakti kepada mereka. Doa adalah salah satu sikap berbakti kepada orang tua khususnya mereka yang telah wafat. Doa bisa dilakukan secara sendirian, bisa juga dengan mengundang kerabat dan sahabat untuk bersama-sama mendoakan orang tua yang telah wafat, khusus di hari haul wafatnya. Itulah di antara manfaat membaca Yasin dan Tahlil yang telah ditradisikan oleh ulama kita dan orang-orang yang shaleh.
posting by
Berbakti pada Orang Tua Langkah Paling Efektif untuk Mencapai Sukses dan Kebahagiaan
24 Oktober 2010 jam 22:36